Senin, 09 Maret 2020

Peran Millenial dalam Mengimplentasikan Al-Qur'an dan Sunnah Untuk Mewujudkan Tsaqofah Islamiyyah



Alqur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berlaku sepanjang zaman dan telah teruji kebenarannya. Diturunkan oleh Dzat Yang Mulia kepada Rasul-Nya yang mulia pula. Tidak ada yang bisa menggantikan kedudukannya sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia hingga akhir zaman. Sedangkan Sunnah yaitu segala perbuatan maupun perkataan yang berasal dari Rasulullah SAW yang sesuai dengan Al-Qur’an dan merupakan suri tauladan yang baik bagi seluruh umatnya.
Perkembangan teknologi memang sangat memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi, akan tetapi juga dapat menimbulkan dampak negative seperti pengikisan nilai-nilai moral dan akhlak pada generasi muda akibat penyalahgunaan teknologi tersebut. Selain itu, teknologi dan segala urusan dunia dapat membuat semua orang khususnya generasi muda menjadi lalai akan waktu, sebab banyak waktu yang mereka habiskan untuk urusan dunia dan teknologi tersebut.
Seharusnya, seluruh gaya hidup, pola pikir dan perilaku umat Muslim dapat berpijak pada ajaran aqidah Islam serta tidak menyimpang dari kepribadian islami sehingga dapat terjaga dari pengaruh nilai-nilai budaya dan pandangan hidup kafirin. Dengan begitu, Umat Muslim dapat terus menjaga Tsaqofah Islamiyah.
Tsaqofah Islamiyah merupakan peradaban Islam yang berarti seluruh konsep pemikiran dan pandangan hidup berdasarkan ajaran/aqidah Islam tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Jadi, dalam memandang realita dan fenomena kehidupan, seorang Muslim harus berlandaskan Aqidah Islam. Mempelajari Tsaqofah Islamiyyah dapat menyadarkan Umat Islam dan membekali diri dengan pandangan, pola pikir, gaya hidup, dan kepribadian Islami. Untuk itu, Sebagai seorang Muslim, seyogyanya kita dapat berdiri pada pendirian kita masing-masing dan tetap teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah agar dapat mewujudkan kehidupan umat berdasarkan Tsaqofah Islamiyah.
Sedangkan kondisi umat Muslim sekarang dengan mudah meniru dan mengikuti budaya, tradisi, gaya hidup dan pola pikir orang kafir, sehingga mereka terjerumus pada ideologi yang sesat, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

لَتَتَّبِعُنَ سَنَنَ الَّدِيْنَ مِنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتىَّ لَوْ دَخَلُوْا فِيْ جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَبَعْتُمُوهُمْ، قُلْنَا: يَا رَسُوْلُ اللهِ اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ ؟!.
“Sungguh kalian akan mengikuti gaya hidup orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga kalau mereka masuk liang dhab (binatang sejenis biawak), maka kalian akan mengikuti mereka. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Memangnya siapa lagi?” (HR. Muslim)
Generasi Muda adalah tumpuan untuk masa depan, merekalah yang akan membawa panji Islam, yang akan memimpin umat agar menjadi hamba yang berakhlak mulia dan hidup sesuai dengan ajaran islam. Semua itu akan terwujud apabila Pendidikan yang benar sesuai ajaran Islam diberikan sejak dini.
Para Generasi Muda harus didekatkan pada ajaran Islam, dengan ditanamkan nilai-nilai Al-qur’an dan Sunnah pada diri mereka agar mereka dapat seimbang dalam berfikir dan bertindak. Adapun Para Orang Tua, Guru atau Pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anak kaum muslimin, menjadikan mereka generasi Rabbani yang selalu berjalan diatas ketentuan-ketentuan Allah dan Sunnah Rasul-Nya, agar mereka dapat melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan Para sahabat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَ هُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَ هُمْ أَبْنَاءَ عَشَرَ وَ فَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian agar menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukulah mereka ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurnya”. (HR. Abu Dawud).

Meskipun hadits ini hanya berhubungan mendidik anak sejak dini dalam hal shalat, akan tetapi sesungguhnya mencakup Pendidikan lainnya dalam syariat islam yang bertujuan agar anak-anak tumbuh menjadi Pemuda yang taat pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Salah satu wasilah yang dapat membentuk kepribadian anak-anak atau Generasi Muda misalnya dengan menyekolahkan mereka di Pesantren atau sekolah-sekolah yang memiliki nilai-nilai Islami serta Pendidikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah agar mereka dicetak menjadi generasi-generasi yang baik. Mereka juga harus dijauhkan dari berbagai sarana yang dapat membawa kepada kerusakan, sehingga anak akan selamat dari berbagai penyelewengan, agar selalu terjaga fitrahnya, dan menjadi anak shalih yang memberi manfaat bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat kelak. Seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits:
اِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهَ اِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ اِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
“Apabila salah seorang meninggal, maka akan terputuslah semua amalannya, kecuali tiga perkara (yaitu) sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendo’akan kedua orang tuanya. (HR. Muslim).

Islam sangat memperhatikan kepada Para Pemuda, karena Masa muda merupakan masa yang produktif dan gemilang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju akhirat. Demikian halnya Rasulullah SAW pun sangat memperhatikan kepada Para Pemuda, seperti dalam sabdanya:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الإِمَاُم الْعَادِلُ وَ شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
“Tujuh orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil dan seorang Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. (Muttafaqun Alaihi)

            Untuk itulah, sebagai Generasi Millenial, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dengan mempelajari dan memahaminya serta terus berpegang teguh menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman serta petunjuk dalam mengarungi kehidupan agar dapat menjadi Pemimpin Umat yang taat sehingga dapat melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW dalam mewujudkan dan menjaga Tsaqofah Islamiyyah.





Rabu, 04 Maret 2020

Puisi "Masihkah?"





Serentak rinduku turun Bersama hujan
Menggelimangi tanah berdebu kekeringan
Hingga kini masih ku genggam
Rasa yang tak kunjung padam
Batin dan khayalku terus berkejaran
Merindui sesosok kelembutan
Dari angin yang merdu
Hingga kini
Terus merindu
Tak jera meski tak terbalas
Masihkah ada sepercik rasa
Dalam ruang kalbumu?
Untukku, yang berlinang
Masihkah kasihmu dipersembahkan
Untukku, yang selalu bersemayam
Adakah kau berjuang
Menepi ke ujung harapan
Menjemputku yang telah layu
Namun mimpiku bak tenggelam
Dalam kesunyian yang menekam







Selasa, 03 Maret 2020

Bahayanya Pacaran



Assalamu’alaikum Akhowati Fillah,
Disini saya akan membahas tentang bahayanya pacaran. Mengapa pembahasannya tentang pacaran? Karena saya pernah terjerumus kedalamnya, dan setelah itu, saya mulai memahami bahaya-bahaya yang ada padanya, baik itu kecil maupun besar, tapi tentunya bahaya yang besar itu berasal dari hal yang kecil, untuk itu sebelum terjadi apapun kepada Para Wanita Muslimah, ada baiknya kita untuk mencegah.
Sebelum berlanjut, saya ingin mengingatkan bahwa “Jangan pernah menghina orang yang pernah atau yang sedang berpacaran, karena jika suatu saat mereka bertaubat, bisa jadi mereka lebih mulia dari orang yang menghina”. Jadi, sebagai sesama Muslimah, kita tidak boleh saling menghina, apalagi menggunjing saudari kita yang melakukan kesalahan, ada baiknya kita mengingatkan mereka, jika mampu melalui lisan dan perbuatan. Tapi jika keduanya tak berpengaruh, maka do’akan saja agar Allah berkenan memberinya hidayah.
Wahai Para Wanita Muslimah,
                Saya ingin berbagi tentang pandangan saya mengenai bahayanya berpacaran. Pacaran yang banyak dilakukan Para pemuda saat ini ada banyak macam dan versinya, contohnya:
1.         Berpacaran lewat sosmed, jarang bertemu dan berkomunikasi secara langsung, namun berkhalwat lewat medsos.
2.        Berpacaran hanya sekedar status, namun sama sekali tidak berkomunikasi karena alasan sama-sama sedang menuntut ilmu.
3.        Berpacaran secara terang-terangan, berkomunikasi lewat medsos, sering bertemu dan jalan Bersama.

Diantara macam-macam versi berpacaran diatas, masih banyak lagi versi-versi pacarn yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Adapula yang menyebut sebagai “Pacaran Syar’I”, yang berarti pacaran mereka bernilai positif karena sebagai penyemangat dalam menuntut ilmu dan saling mengingatkan satu sama lain dikala ada yang khilaf. Pacaran yang berkedok syar’I inilah yang berbahaya, karena kelihatannya tidak berdosa, namun sebenarnya sama-sama berdosa karena ada hubungan antara kedua belah pihak.
Bagaimanapun jenis pacarannya, yang Namanya pacaran tetaplah pacaran. Tidak ada istilah pacaran syar’i. karena sesungguhnya syetan itu sangatlah cerdik, mereka membuat manusia tergiur untuk melakukan hubungan yang kelihatannya syar’I sehingga dianggap boleh. Padahal seperti yang kita tahu, bahwasanya syetan itu memang senang ketika melihat antara laki-laki dan wanita berkhalwat meskipun hanya sekedar lewat sosmed. Mereka ingin mempersatukan mereka dalam hubungan yang tidak halal dan merayunya supaya melakukan hal-hal yang melampaui batas.
Maka dari itu, berhati-hatilah kalian semua, karena syetan sangatlah suka terhadap dua hal, yaitu membuat dua orang yang belum halal jatuh cinta supaya berzina, dan merayu suami istri yang sudah halal supaya bercerai. Naudzubillah, semoga kita terhindar dari semua hal itu.
Disamping itu, banyak hal-hal yang negative yang akan menyerang orang yang berpacaran secara lembut, seperti:
1.         Berkurangnya rasa cinta kita terhadap Allah karena cintanya telah terbagi untuk makhluk yang belum halal untuk kita.
2.        Sholat tidak khusyu’ karena terlalu banyak memikirkannya.
3.        Banyak ibadah yang berkurang karena terlalu awet bermain handphone.
4.       Banyak waktu yang tersita hanya untuk mementingkan satu orang saja, sehingga pekerjaan lain terhambat.
5.        Semakin jauh dari orang tua dan keluarga karena terlalu sibuk dengan pacar.
Dari beberapa hal negative diatas, tentunya masih banyak lagi hal-hal negative yang akan terjadi pada kita jika kita berpacaran. Jangan pernah merasa bahwa dengan kalian memiliki seorang kekasih yang kelihatannya sholeh lalu kalian menganggap bahwa sholat kalian makin khusyu’ atau ibadahnya lebih rajin karena diberi nasihat olehnya. Itu adalah tipuan semata, karena suatu tipuan itu datangnya secara lembut tanpa terasa, untuk itu kita harus pintar dalam menyikapi permasalahan seperti ini.
Ingatlah wahai saudariku, bahwa tidak akan pernah ada manfaat daripada berpacaran. Semua dampaknya negative dan hanya satu positifnya, yaitu positif berzina. Berpacaran merupakan jalan menuju zina, sedangkan Allah telah memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina. Mendekatinya saja sudah tidak boleh apalagi melakukannya, ini pertanda bahwa betapa hinanya perbuatan zina itu. Maka jauhilah wahai saudariku! Wallahu a’lam bissawab, ihdinassirotol mustakim.


Puisi "Menyambut Fajar"




Gelap menyelimuti malamku
Bersama percikan cahaya bintang
Dan rembulan menyatu
Dalam hamparan langit,
Suara alunan malam
Yang penuh simphoni
Meruntuhkan sunyi hati
Desiran angin menyapu
Meniup sayup
Mengirim kantuk
Menutup mata hingga terlelap
Membawaku bercanda dalam mimpi
Mencicipi seduhan kehangatan
Dari pelukan alam
Detik memecahkan malam
Menyambut fajar yang kunantikan


“MELEPASMU”



Awalnya memang ini hal yang tak mudah bagiku. Tetesan demi tetesan air mata berlinang di pipiku. Entah karena hati yang belum sepenuhnya rela, atau rasa takut akan kehilangannya selamanya. Padahal yang perlu kutangiskan bukanlah semua itu, melainkan aku harus menangisi semua dosa-dosa yang telah berlumuran dalam jiwaku. Hari itu, aku melepaskannya, melepaskan cintaku pada seorang makhluk. Aku percaya, tidak seharusnya rasa cintaku ini ku beri pada seseorang yang belum halal bagiku. Seharusnya aku penuhi kalbuku ini dengan rasa cinta pada-Nya, pada Rabb Yang telah menciptakanku, yang memberiku hidup serta kesempatan untuk singgah di dunia-nya dan mencari bekal untuk ke akhirat-Nya.
Saat aku mulai berjalan menuju kebaikan, banyak hal yang sangat memberatkanku, setiap aku bersujud kepada-Nya, mataku tak kuat menahan buliran air mata, selalu air mata ini mengalir dari pelupuk mataku. Ibadah kepada-Nya pun rasanya menjadi tak khusyu’ karena fikiranku selalu tertuju pada hal itu. Sungguh na’ifnya aku, mengerjakan sholat tapi apa yang aku ingat? Ya Rabb, ampuni hamba-Mu yang hina ini, sudah membuatmu cemburu dengan mencintai makhluk-Mu, padahal hamba tahu bahwa Engkaulah Yang Maha Penyayang dari Para Penyayang, engkaulah Yang paling patut dicintai.
Untuk Para Sahabat Muslimah,
Aku ingin mengajak kalian untuk menjadi sebaik-baik hamba. Bukan karena merasa diriku yang paling taat, atau telah menjadi makhluk-Nya yang terbaik, Tapi aku hanya ingin apa yang telah terjadi padaku tak terjadi pada Muslimah yang lain. Aku merasa sudah pernah terjerumus ke dalam jurang yang penuh dosa, meski tak sebegitu dalam, tapi aku takut, apa yang telah aku lakukan dahulu, dosanya jauh lebih besar dari yang aku tahu.
                Wahai saudariku,
Aku tahu, melepas seseorang yang telah kita cintai bahkan telah lama Bersama kita sangatlah sulit dan menghadirkan sakit yang berkepanjangan. Tapi ketahuilah wahai saudariku, bahwasanya sakit yang kau rasa berkepanjangan itu tidak akan sesakit seperti yang kau bayangkan. Rasa Bahagia yang selama ini kau dapat dan yang kau rasakan ketika dahulu bersamanya, bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya. Apakah kalian ingin merasakan kebahagiaan yang hanya sementara namun dibalik indahnya kebahagiaan itu menghadirkan luka selama-lamanya? Tidak wahai saudariku. Kebahagiaan yang seperti itu tidaklah benar.
Aku sudah melakukan hal ini. Aku telah berusaha melepaskan orang yang pernah aku cintai. Aku memang sangat menyedihkan hal ini, aku meneteskan air mata berhari-hari untuk ini di setiap sujudku. tapi, setelah kesedihan itu, aku mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki. Kedamaian dalam hatiku benar-benar kurasakan saat ini. Rasa takut yang awalnya muncul, sekarang tak ada lagi, bahkan sekarang aku merasa lebih kuat tanpanya. Aku tahu, Allah lah yang telah menguatkan hatiku hingga aku tak lemah lagi tanpanya.
Kesemangatan yang dulu sempat kusandarkan padanya, kini tak lagi kusandarkan pada siapapun, sebab aku sudah memiliki tempat sandaran yang jauh lebih baik dari pada itu dan bisa membuatku nyaman dan tenang tanpa ada kesedihan dalam hatiku. Dahulu, aku pernah bersandar kepada seorang makhluk, yang bisa pergi kapan saja dia mau. Namun, Tempat ku bersandar saat ini tak akan pergi meski dalam keadaan apapun, sebab aku bersandar kepada Dzat Yang Maha Kekal yaitu Allah SWT.
Aku sangat bersyukur, Allah telah menunjukkanku ke jalan-Nya yang benar. Allah memberiku hidayah yang tak semua orang bisa mendapatkannya kecuali yang dikehendaki-Nya saja. Masa lalu yang pernah aku lewati bersamanya, kini ku jadikan pelajaran supaya tak terjadi di masa yang akan datang, begitu pula aku tak ingin apa yang aku lakukan dulu, akan terjadi pada saudariku yang lain. Untuk itu, pahamilah saudariku, jika waktu yang tepat belum tiba, jangan pernah berikan cintamu kepada makhluk. Berilah cintamu dahulu kepada Sang Pencipta, utamakanlah Dia yang telah menciptakanmu. Penuhi kalbumu dengan cinta yang tulus pada-Nya. Yakinlah, bahwa Allah akan memberimu Imam yang terbaik sebagai Pemimpinmu tuk menuju Jannah-Nya.


Minggu, 01 Maret 2020

Jangan Lupa untuk "Say Thanks and Sorry" untuk dirimu


“Say Thanks and Sorry”



Seringkali kau memaksakan dirimu untuk bisa menjadi seperti orang lain, khususnya menjadi seperti orang yang kau kagumi. Namun ketahuilah wahai saudariku, bahwasanya menjadi dirimu itu akan jauh lebih baik, bahkan orang yang kau kagumi sesungguhnya ingin engkau supaya menjadi lebih baik darinya. Tapi jangan pernah kau salah artikan bahwa menjadi diri sendiri itu lebih baik.
Arti dari menjadi diri sendiri lebih baik itu berarti kamu menysukuri apa yang telah Allah berikan padamu dan kau tak mencela hal buruk yang ada pada dirimu. Kau tak perlu mengubah sesuatu yang tak patut kau rubah dari Penciptaan-Nya. Yang perlu kau rubah adalah akhlakmu, tingkahmu, dan perangaimu, agar semua Penduduk langit memujimu sebagai hamba yang baik.
Jangan pernah kau membenci dirimu apabila kau tak mampu melakukan hal yang bisa dilakukan orang lain. Sebab, Allah telah menciptakan makhluk dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing, jadi bersyukurlah dengan apa yang kamu punya saat ini. Dibalik kekurangan yang ada pada dirimu, tentunya Allah tak kan lupa untuk menyelipkan kelebihan-kelebihan tertentu. Jika kau belum menemukannya, maka carilah kelebihan apa yang ada pada dirimu.
Jika kelebihan yang ada pada dirimu ternyata tak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, tetaplah bersyukur, Allah memang akan lebih mengutamakan apa yang kau butuhkan dibandingan keinginanmu, sebab, Allah berikan semua itu karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untukmu sedangkan kita sebagai makhluk tidaklah mengetahui apa yang baik untuk diri kita sendiri. untuk itulah, kita harus senantiasa menerima takdir Allah dengan lapang dada, dengan rasa syukur yang banyak, karena nikmat yang Allah berikan tiada tara luasnya.
Ucapkanlah terimakasih pada dirimu sendiri yang mungkin sering Lelah karena memenuhi egomu, tanpa mempedulikan keterbatasan-keterbatasan yang kamu miliki. Ia pasti sering melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai, dan melewati hal-hal yang pahit baginya. Ucapkanlah “Terimakasih wahai diriku karena telah menjadi sosok yang kuat dan aku minta maaf karena telah memaksamu melakukan kepahitan ini”. Sering-seringlah ucapkan terimakasih dan maaf untuk dirimu sendiri meski dalam keadaan apapun, walau ada kalanya dirimu mengecewakan, lemah, dan memberi hasil yang tak memuaskan, tetaplah hargai dirimu sendiri, hargailah setiap peluh perjuanganmu.
Sayangilah dirimu wahai saudariku, kau diciptakan karena ada tujuan, bukan untuk disia-siakan belaka. Untuk itu, bangkitlah! Buat dirimu Bahagia, bangga dan cintailah dirimu sendiri. buktikan pada dirimu sendiri bahwa kau pun bisa menjadi bintang di angkasa, tertinggi dan bersinar paling terang. Don’t forget to love who you are!

“Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Generasi Muda"

  Di era modern ini, teknologi semakin canggih yang merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Budaya asing semakin mudah masuk ke bum...