Awalnya memang ini hal yang
tak mudah bagiku. Tetesan demi tetesan air mata berlinang di pipiku. Entah
karena hati yang belum sepenuhnya rela, atau rasa takut akan kehilangannya
selamanya. Padahal yang perlu kutangiskan bukanlah semua itu, melainkan aku
harus menangisi semua dosa-dosa yang telah berlumuran dalam jiwaku. Hari itu,
aku melepaskannya, melepaskan cintaku pada seorang makhluk. Aku percaya, tidak
seharusnya rasa cintaku ini ku beri pada seseorang yang belum halal bagiku.
Seharusnya aku penuhi kalbuku ini dengan rasa cinta pada-Nya, pada Rabb Yang
telah menciptakanku, yang memberiku hidup serta kesempatan untuk singgah di
dunia-nya dan mencari bekal untuk ke akhirat-Nya.
Saat aku mulai berjalan
menuju kebaikan, banyak hal yang sangat memberatkanku, setiap aku bersujud
kepada-Nya, mataku tak kuat menahan buliran air mata, selalu air mata ini
mengalir dari pelupuk mataku. Ibadah kepada-Nya pun rasanya menjadi tak khusyu’
karena fikiranku selalu tertuju pada hal itu. Sungguh na’ifnya aku, mengerjakan
sholat tapi apa yang aku ingat? Ya Rabb, ampuni hamba-Mu yang hina ini, sudah
membuatmu cemburu dengan mencintai makhluk-Mu, padahal hamba tahu bahwa
Engkaulah Yang Maha Penyayang dari Para Penyayang, engkaulah Yang paling patut
dicintai.
Untuk Para Sahabat Muslimah,
Aku ingin mengajak kalian
untuk menjadi sebaik-baik hamba. Bukan karena merasa diriku yang paling taat,
atau telah menjadi makhluk-Nya yang terbaik, Tapi aku hanya ingin apa yang
telah terjadi padaku tak terjadi pada Muslimah yang lain. Aku merasa sudah
pernah terjerumus ke dalam jurang yang penuh dosa, meski tak sebegitu dalam,
tapi aku takut, apa yang telah aku lakukan dahulu, dosanya jauh lebih besar
dari yang aku tahu.
Wahai saudariku,
Aku tahu, melepas seseorang
yang telah kita cintai bahkan telah lama Bersama kita sangatlah sulit dan
menghadirkan sakit yang berkepanjangan. Tapi ketahuilah wahai saudariku,
bahwasanya sakit yang kau rasa berkepanjangan itu tidak akan sesakit seperti
yang kau bayangkan. Rasa Bahagia yang selama ini kau dapat dan yang kau rasakan
ketika dahulu bersamanya, bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya. Apakah kalian
ingin merasakan kebahagiaan yang hanya sementara namun dibalik indahnya
kebahagiaan itu menghadirkan luka selama-lamanya? Tidak wahai saudariku.
Kebahagiaan yang seperti itu tidaklah benar.
Aku sudah melakukan hal ini.
Aku telah berusaha melepaskan orang yang pernah aku cintai. Aku memang sangat
menyedihkan hal ini, aku meneteskan air mata berhari-hari untuk ini di setiap
sujudku. tapi, setelah kesedihan itu, aku mendapatkan kebahagiaan dan
ketenangan yang hakiki. Kedamaian dalam hatiku benar-benar kurasakan saat ini.
Rasa takut yang awalnya muncul, sekarang tak ada lagi, bahkan sekarang aku
merasa lebih kuat tanpanya. Aku tahu, Allah lah yang telah menguatkan hatiku
hingga aku tak lemah lagi tanpanya.
Kesemangatan yang dulu sempat
kusandarkan padanya, kini tak lagi kusandarkan pada siapapun, sebab aku sudah
memiliki tempat sandaran yang jauh lebih baik dari pada itu dan bisa membuatku
nyaman dan tenang tanpa ada kesedihan dalam hatiku. Dahulu, aku pernah
bersandar kepada seorang makhluk, yang bisa pergi kapan saja dia mau. Namun,
Tempat ku bersandar saat ini tak akan pergi meski dalam keadaan apapun, sebab
aku bersandar kepada Dzat Yang Maha Kekal yaitu Allah SWT.
Aku sangat bersyukur, Allah
telah menunjukkanku ke jalan-Nya yang benar. Allah memberiku hidayah yang tak
semua orang bisa mendapatkannya kecuali yang dikehendaki-Nya saja. Masa lalu
yang pernah aku lewati bersamanya, kini ku jadikan pelajaran supaya tak terjadi
di masa yang akan datang, begitu pula aku tak ingin apa yang aku lakukan dulu,
akan terjadi pada saudariku yang lain. Untuk itu, pahamilah saudariku, jika
waktu yang tepat belum tiba, jangan pernah berikan cintamu kepada makhluk.
Berilah cintamu dahulu kepada Sang Pencipta, utamakanlah Dia yang telah
menciptakanmu. Penuhi kalbumu dengan cinta yang tulus pada-Nya. Yakinlah, bahwa
Allah akan memberimu Imam yang terbaik sebagai Pemimpinmu tuk menuju
Jannah-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar