Selasa, 04 Januari 2022

“Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Generasi Muda"

 


Di era modern ini, teknologi semakin canggih yang merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Budaya asing semakin mudah masuk ke bumi pertiwi dan tersebar ke seluruh penjuru dunia sehingga makin mudah mempengaruhi generasi muda. Hampir 89 % penduduk Indonesia adalah generasi muda. Jika generasi muda nya baik dan berlandaskan pada Ideologi Indonesia itu sendiri, maka generasi muda nya tak akan mudah terpengaruh oleh budaya barat. Begitu sebaliknya, apabila generasi mudanya tidak berpedoman pada ideologinya, maka dengan mudah ideology barat mempengaruhinya.

          Indonesia adalah Negara ke-3 sebagai Pengguna media sosial terbanyak dari negara-negara lainnya. Pertanyaannya, apakah Para Pengguna Medsos ini menggunakannya dengan bijak? Apakah untuk kepentingan atau hanya sekedar update postingan? Media social akan sangat bermanfaat bagi mereka yang pandai memanfaatkannya untuk hal-hal positif. Sedangkan bagi mereka yang hanya menggunakan sebagai pemuas nafsu semata maka akan menggunakannya untuk hal-hal yang negative. Media social menjadikan yang hitam menjadi putih, dan yang putih menjadi hitam. Seorang anak yang dulunya pendiam, tidak tau menau tentang media social, setelah ia beranjak dewasa dan menemukan media social, kemudian mulai menggunakan facebook, whatsapp, twitter, Instagram, dan lain-lain, Dari sinilah segalanya dimulai. Budaya barat akhirnya berhasil mempengaruhi para generasi muda.

          Banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki dampak negative bagi kita, seperti Aplikasi tik tok dan yang sejenisnya membuat para remaja khususnya perempuan, tertarik menggunakan aplikasi ini dan tanpa rasa malu mereka bergaya-gaya, menggerakkan tubuhnya dengan music-musik yang dipadukan didalamnya. Hal ini sungguh membuktikan bahwa nilai dan norma para remaja mulai menurun. Dan bukan hanya dari kalangan remaja saja yang menggunakan aplikasi seperti ini. polisi, pegawai, guru, dan khalayak lain pun mulai terpengaruh oleh aplikasi ini.

          Memposting foto rasanya sudah menjadi hal pokok yang harus dilakukan tiap harinya. Padahal sebagai generasi muda, kita masih mempunyai peluang banyak untuk melakukan banyak hal. Usia belasan tahun adalah waktu yang sangat produktif untuk belajar, berfikir kritis, memberi pendapat, dan berkarya. Di waktu inilah seharusnya kita menggunakannya dengan bijak. Sebisa mungkin kita harus bisa meninggalkan suatu pekerjaan yang tidak berfaedah dan menggantinya dengan hal-hal yang positif dan lebih bermanfaat.

          Untuk itulah, seharusnya para orang tua harus lebih menyadari lagi tentang rasa kepedulian terhadap anak, di usianya yang beranjak dewasa ini, bukan waktunya mereka untuk dilepas. Justru mereka sangat membutuhkan bimbingan langsung dari orang tua, karena tantangan zaman yang membuatnya harus bisa menghindari hal-hal negative. Orang tua harus lebih bijak dalam mengatur dan menjaga anaknya dengan baik. Berikan mereka kebebasan, namun bukan berarti bebas melakukan semaunya. Artinya orang tua harus bisa menyeimbangkan antara peraturan dan kenyamanan untuk anak. Sebab, anak yang terlalu dikekang untuk patuh terhadap perintah orang tua terkadang lama kelamaan akan bosan sehingga membuat mereka melewati batas peraturan tersebut, kecuali jika si anak berfikir dewasa, memiliki kesadaran diri dan pribadi yang baik.

          Gaya hidup, cara berfikir, cara berpakaian dan masih banyak hal lainnya sudah mulai mengikuti budaya barat. Mereka lebih suka berpakaian terbuka. Hal ini tentu sangat tidak sesuai dengan ajaran islam yang memerintahkan umatnya untuk berpakaian sopan. Kita sebagai Generasi muda seharusnya memiliki kesadaran dalam berfikir dewasa. Kita tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal negative dari budaya barat. Untuk itu, kita harus kembali kepada ideology kita sendiri yaitu ideology Pancasila yang telah mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik, kesopanan, serta kembali pada kepercayaan masing-masing supaya tujuan hidup kita lebih terarah. Sebab, sebagai manusia, kita harus memiliki tempat kembali, yaitu kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca, Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya!

 

 


Senin, 25 Januari 2021

Puisi "Muslimah Tangguh"

 


“Muslimah Tangguh”

Karya: Aprilia Azizah


Bintang seolah tak berkedip

Ketika memandangi sosok berhijab itu

Membawa kitab suci yang dipegangnya nan erat

Langkah kakinya yang pasti

Menunjukkan keelokan diri

Tak gentar hadapi problema duniawi

Para bidadari syurga pun melirik

Merasa iri hati padanya

Kala ia mensucikan diri

Serta melabuhkan hati pada sang kuasa

Beribadah tanpa henti

Dengan menghadirkan cinta dalam kalbunya

Rasa malu yang membalut taqwanya

Memancarkan sinar yang terang pada tiap pemandangnya

Hati yang selalu disirami dengan percikan sabar

Selalu membuatnya rendah hati dan dicintai banyak orang

Sejuk mata memandang

Sosok muslimah tangguh nan teladan

Hadirnya ciptakan kedamaian sejati

Perginya ditunggu kedatangannya lagi

Bibirnya tak berhenti berdzikir

Mengingat Rabb sang penguasa alam

 

 

 

 


Minggu, 24 Januari 2021

Puisi "“Suara Hati Untuk Dua Malaikat Tanpa Sayap”

 



“Suara Hati Untuk Dua Malaikat Tanpa Sayap”

Karya: Aprilia Azizah

 

Ibu,

Meski segala lara yang kau rasakan,

Tak pernah kau tampakkan

Namun aku tahu,

Ada ratusan duri yang menusuk

Dalam setiap sudut hatimu.

Ayah,

Meski banyak lelah yang kau sembunyikan

Namun aku begitu melihat setiap perjuanganmu

Dalam kerut kulitmu dan tiap tetes keringatmu

Ayah….. Ibu…..

Meski aku tak selalu bersama kalian,

Namun hati dan cintaku

Hanyalah untuk kalian

Aku tetaplahh putri kecilmu

Yang dulu kau timang-timang

Dalam buaian hangat kalian

Ayah…..ibu…..

Menjadi anak rantau begitu berat bagiku,

Aku harus menahan ribuan, jutaan,

Bahkan rindu yang tak terhingga dalam benakku.

Aku merasa hari-hariku berat,

Tanpa ada kalian disisiku,

Tapi aku yakin,

Kalian selalu mengiringiku dengan bait bait do’a.

Ayah, ibu

Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu,

Tentang kisah pahit manis hidupku disini,

Namun rasanya, semua yang kurasakan,

Tak sebanding pahitnya dari perjuangan yang kalian lakukan

Kalian berjuang, demi masa depanku

Dan mengharapkan selalu kesuksesanku

Tapi terkadang, justru aku disini yang lalai,

Tak memikirkan bagaimana sulitnya kalian disana

Maafkan aku ayah, ibu,

Karena sering melalaikan tugasku sebagai seorang anak,

Maafkan aku, karena belum belajar dengan sungguh-sungguh

Seperti yang kalian pinta padaku

Terimakasih ayah, ibu

Atas segala kasih dan sayang yang telah kalian curahkan padaku.

Ayah, ibu,

Aku disini merindukan kalian

 

 

 

Sabtu, 23 Januari 2021

From Me, To My Self

 



Jika kamu sedang berhijrah, lalu kamu sulit untuk istiqomah, jangan salahkan lingkungan dan kawan pergaulanmu, tapi salahkan dirimu sendiri, mengapa kamu tidak memilih teman-teman yang baik dan mampu membawa dirimu terus dalam kebaikan?

Jika kamu sedang kesulitan, jangan salahkan orang lain karena tidak mau membantumu. Salahkan dirimu, mengapa kamu tidak mau minta tolong terlebih dahulu kepada mereka?

Jika kamu merasa kesepian, jangan salahkan orang lain karena tidak menemanimu. Tapi salahkan dirimu, mengapa kamu tidak mencoba untuk berbaur dengan kawan-kawan?

Jika kamu menginginkan seseorang mengertikanmu, lalu ia tidak mengerti, jangan salahkan orang lain, tapi salahkan dirimu. Mengapa kamu tidak mencoba untuk mengertinya juga?

Jika orang lain membencimu, jangan salahkan ia, tapi salahkan dirimu. Mengapa kamu melakukan sesuatu yang membuatnya membencimu?

Jika orang lain tidak mempedulikanmu, jangan salahkan ia, tapi salahkan dirimu. Mengapa kamu belum peduli juga kepada orang lain?

Mulai sekarang, muhasabah diri, jangan selalu menunggu orang lain selalu peka. Jangan minta orang lain untuk menggerakan hatinya dahulu, sebelum hatimu yang tergerak untuk melakukan semua itu.

From Me, To My Self.

Jumat, 11 September 2020

Puisi "Senyum Palsu"

 

Senyum palsu

Hatiku pada awalnya seperti bunga

Yang selalu merekah

Kala melihat sekilas senyum indah

Dari dirimu yang ku damba

Kini tak ingin lagi menyaksikannya

Setelah ku tau,

Semua yang kau lakukan itu

Hanya sebuah senyuman palsu

Untuk apa kau lemparkan senyum itu

Jika hanya membuatku tersipu malu

Yang pada kenyataannya

Hatimu lebih memilih dirinya

Inikah yang dinamakan harapan?

Diriku hanya bisa terdiam

Dan hatiku pun terus menggumam

Bodohnya diriku telah tertipu

Oleh sosok dirimu yang buatku ragu

Hatiku begitu rapuh dan sendu

Terombang ambing oleh dahsyatnya badai rindu

Ku minta kau tuk berhenti di depan kalbu

Dan jangan mengetuk lagi serta menjauhiku

 

Puisi "10 Harii Tanpamu"

 



“10 Hari Tanpamu”

Kepakan sayap masa lalu

Membawaku terbang bernostalgia

Berhimpitan dengan sejuta kenangan

Aku melihat ruang senang, sedih, bahagia dan kecewa

Terpampang jelas di hadapanku

Hari dimana aku merasa bersedih

Menjalani hari-hari tanpamu

Sepuluh hari itu terasa berat

Seperti menjajakkan kaki diatas air

Rasanya tak mampu kulakukan

Engkau meninggalkan sejuta rindu

Yang terurai deras dalam kalbu

Raut wajahmu seolah berpamitan

Walau hanya dengan sebuah tatapan

Yang masih terkenang di garis bahagiaku

Hari-hariku tanpamu begitu lesu

Aku yang biasa melihat senyummu meski dari jauh

Kini tak kutemui lagi sosok itu

Aku seperti kehilangan arah

Kebingungan dan menyerah

Aku berdiri di pintu kelas itu

Sambil menunggu sebuah kabar darimu

Namun, sebuah salampun tak kudapati

Meski hanya dari kicauan merpati

Ku hanya bisa berharap

Rindu ini segera terucap

Kepadamu yang sedang kutunggu

Dalam diamku yang termangu

Dunia ini terasa begitu beku

Kedinginan tanpa hangatmu

Aku ingin sepuluh hari ini segera pergi

Dan membawamu pulang kembali

Kepadaku yang selalu menanti

 

 

Rabu, 09 September 2020

Tak Perlu Malu

 

“Tak Perlu Malu”

Pada hari itu, ketika berada di jam kuliah, kebetulan dosenku sedang membahas soal pandangan sesorang mengenai pondok berdasarkan latar belakangnya. Lalu beliau menanyakan kepada kami, “Siapa disini yang orang tuanya Alumni Pondok?” tentu saja aku tak kan mengangkat tangan, karena kedua orang tuaku adalah Petani, dan akupun hidup dalam keluarga yang sederhana. Lalu ada beberapa temanku yang menunjuk tangan, menandakan bahwa orang tua mereka adalah alumni Pondok.

Lalu Bapak Dosen mulai menunjuk salah satu Mahasiswi dan menanyakan tentang bagaimana pendapat orang tuanya mengenai Pondok dan apa yang mendorong orang tuanya untuk memasukkan anaknya ke pondok. Tapi sebelum itu, Bapak Dosen bertanya apa pekerjaan orang tuanya. Lalu ia menjawab, “Bapak saya Pengusaha, Pak”. Serentak hatiku begitu merasa heran dan takjub seraya berkata dalam hati “Masyaallah, betapa beruntungnya ia yang memiliki seorang Bapak Pengusaha, pasti ia hidupnya begitu berkecukupan”.

Kemudian ia mulai menjawab mengenai pendapat Bapaknya tentang Pondok, “Iya jadi karena Bapak saya pernah mondok ya pak, jadi beliau pastinya mengetahui bagaimana pengaruh Pondok bagi dirinya dalam hal pendidikan dan pengajaran, maka dari itu bapak saya memasukkan saya ke Pondok juga”. Hatiku mulai menggumam, “Benar-benar beda ya pandangan orang tua yang alumni pondok dan yang hanya alumni SD atau SMP”. Astaghfirullahaladzhim, tanpa aku sadari sedari tadi aku sudah mulai tak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku. Sadar Dona! Sadar!

Setelah itu, bapak dosen bertanya lagi siapa yang orang tuanya bukan dari alumni Pondok, dan disitu pun aku tak berani menunjuk tangan, entah apa yang ku fikirkan aku merasa tak begitu kuat jika sampai aku yang ditunjuk. Dan ada beberapa juga teman-temanku yang menunjuk tangan. Disitu aku sempat berfikir, kira-kira kalau orang tua mereka bukan alumni Pondok lalu pekerjaan orang tua mereka apa ya, apa mereka berasal dari keluarga yang seperti aku juga? Tapi mengapa mereka tak begitu kelihatan malu? Aku terus bertanya-tanya, sampai pada akhirnya bapak dosen menunjuk salah satu teman.

“Oh iya kamu, hesti, apa pekerjaan orang tuamu?” ucap bapak dosen. “orang tua saya TNI pak” jawab hesti. Aku semakin kaget dari sebelumnya, ternyata semua yang aku duga-duga tadi salah. Aku mulai berucap dalam hati lagi “Ya Allah betapa beruntungnya ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan, dan ayahnya juga seorang TNI”. Astaghfirullahaladzhim… lagi-lagi aku mulai tak bersyukur lagi. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini.

Dan rupanya pandangan orang tua dia tak beda jauh dari teman yang sebelumnya, patutlah karena mereka terlahir dari keluarga yang terdidik. Tapi entah kenapa setelah itu aku tiba-tiba menangis, beruntungnya aku duduk paling pojok sebelah dinding, jadi tak ada teman yang tahu. tanpa aku sadari hatiku begitu terasa sesak. Entah karena merasa bersyukur atau mulai kufur. Namun setelah aku menangis, aku mulai berfikiran jernih. Aku adalah salah satu anak yang begitu beruntung. Meski terlahir dari keluarga yang sederhana dan mereka hanyalah seorang petani, namun ternyata pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang hina, tapi petani itu adalah suatu pekerjaan yang amat mulia.

Tanpa adanya mereka, kita tak bisa makan nasi, jagung, sayur-sayuran dan lainnya. kita yang biasa sebagai pembeli yang hanya bsa menyediakan uang, lalu apa artinya uang itu apabila barang yang mau dibeli tak ada. Untuk itulah, aku begitu bersyukur terlahir dari keluarga petani. Petani tak selalu miskin, dan tak berkecukupan. Buktinya kedua orang tuaku mampu menyekolahkan aku sampai ke jenjang perguruan tinggi, yang biayanya cukup besar. Bahkan setiap harinya pun aku selalu makan dengan lauk pauk yang baik. Bahkan sayur-sayuran dan nasi yang ku makan lebih alami karena memetik langsung dari kebun, tidak seperti sayuran-sayuran yang sudah di jual di toko atau market yang mungkin sudah diberi bahan pengawet. Aku yakin, Allah akan terus mencukupi kebutuhan hamba-Nya dalam hal menuntut ilmu.

Sebelumnya, ketika aku belum kuliah, aku masih berada di lingkungan yang rata-rata latar belakang orang tua mereka adalah petani. Karena mata pencaharian di desaku adalah petani maka aku tak pernah merasa malu dan biasa saja jika mendengar pekerjaan orang tua adalah petani, tapi setelah mulai kuliah dan hidup di lingkungan yang berbeda, aku juga mulai merasakan banyak perbedaan. Apalagi disini sudah berasal dari berbagai penjuru, tentu saja latar belakang kita berbeda-beda.

Tapi satu hikmah yang dapat ku petik dari kejadian ini adalah, bahwa aku tak perlu merasa malu terlahir dari keluarga petani. Justru aku bangga kedua orangtuaku mampu menyekolahkanku sampai setinggi ini. Aku bahkan ingin lebih baik dari kedua orang tuaku. Ada pepatah bilang “Buah jatuh tak akan jatuhh dari pohonnya”, tapi aku ingin mengubah pepatah itu. Jika kedua orangtuaku adalah petani, maka kelak bisa saja aku jadi Bos dari petani. Jika aku menjadi petani juga, lalu untuk apa aku hidup? Hanya menambah jatah beras saja kan? :D. Maksudnya, meskipun kedua orang tuaku adalah petani, bukan berarti aku harus menjadi petani juga, bisa saja aku menjadi guru, menjadi dokter, polisi, penyanyi, atau apapun nanti. Yang penting aku harus bisa menjadi lebih baik dari kedua orang tuaku dan mengangkat derajat mereka supaya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Pesanku untuk untuk mamah dan bapak, terimakasih banyak telah merawatku hingga aku menjadi seperti sekarang, maaf atas semua tetes keringat yang kalian perjuangkan untuk menyekolahkanku, semoga Allah menggantinya dengan syurga. I love you, Mom, dad.

 

“Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Generasi Muda"

  Di era modern ini, teknologi semakin canggih yang merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Budaya asing semakin mudah masuk ke bum...