Assalamu’alaikum
Sahabat Bloggers….
Di blog kali
ini, saya akan membagikan sebuah kisah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan
nyata. Namun nama dan tempatnya sedikit saya samarkan supaya tidak terjadi
kesalah fahaman bagi Pembacanya nanti. Mohon maaf jika ada kesamaan nama,
tempat, dan kejadian. Sengaja kisah ini saya bagikan kepada
teman-teman semua agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Ok… baca dengan
seksama ya teman- teman…!
“BALASAN YANG SETIMPAL”
Pada suatu hari di sebuah kampus, ada dua orang Mahasiswi sedang
berdiskusi mengenai rencananya sore ini. Sebut saja Yuni dan Ely. Mereka
berencana untuk pergi ke Ruang tamu menemui orang tua mereka, karena mereka
sedang dijenguk. Setelah sampai di Ruang Tamu, seperti biasa mereka bersalaman
kepada orang tua mereka dan mengobrol santai. Kemudian mereka meminjam
handphone kepada orang tuanya. Di Universitas ini, Para Mahasiswi nya dilarang
membawa handphone, untuk itu, setiap mereka dijenguk, mereka memuas-muaskan
diri untuk bermain handphone.
Mereka duduk sambil asyik
main handphone sampai lupa waktu. Malam ini sebenarnya ada acara Seminar
Nasional yang wajib diikuti oleh seluruh Mahasiswi. Akan tetapi, Karena sudah
merasa nyaman dengan handphone nya, maka mereka memutuskan untuk tidak mengikuti
seminar tersebut. “Oh ya, nanti malem ada seminar ya? Gimana kalo kita gak usah
ikut aja? Mendingan disini aja sambil internetan, pasti sinyal nya lancar
banget deh!”, Kata Yuni. “emmm,,, iya juga sih..enak. tapi aku takut ketahuan.
Kalo ketahuan gimana coba”, jawab Ely, khawatir. Yuni pun mencoba meyakinkan
Ely, “Tenang aja, pasti nggak ketahuan kok, kan banyak orang yang dateng, jadi
nggak mungkin kelihatan kalo yang absen dua orang, gimana? Setuju nggak? Nanti
kalau pengabsenan kita nggak ada, bilang aja kita lagi sakit atau ke kamar
mandi. gitu”. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk tidak mengikuti seminar
tersebut.
Pada malam harinya, mereka kembali ke Ruang Penginapan Tamu disaat
Mahasiswi lain sedang sibuk melangkahkan kaki menuju Aula. Mereka kembali
bermain handphone sambil merebahkan diri di ruang tamu, hingga tanpa sadar
mereka terlelap dan tidur. Orang tua mereka tidak tahu jika sebenarnya mereka
mempunyai acara. Mereka dibiarkan tidur terlelap hingga menjelang subuh. kemudian Mereka
bangun dan kembali ke asrama mereka masing-masing.
Keesokan harinya, mereka kuliah seperti biasanya tanpa merasa
bersalah. Mereka merasa tenang karena tidak ada paggilan dari Bagian
Pengasuhan. Namun dua hari setelah itu, mereka dipanggil oleh bagian pengasuhan
dan ditanyai mengenai kejadian malam hari itu. Karena merasa sudah
tertangkap basah, akhirnya mereka mengakui kesalahan mereka. Dan hukuman bagi
pelanggaran ini adalah mengakui kesalahan di depan semua Mahasiswi dan
melakukan eksekusi terhadap handphone nya. Mereka ditugasi untuk menghancurkan
handphone mereka menggunakan batu di depan semua Mahasiswi. Ini merupakan
peraturan yang sudah lama dibuat, sehingga tidak bisa diganggu gugat. Jika
bersalah, maka harus menanggung akibatnya, tanpa memandang siapapun dia.
Akhirnya, pagi itu seluruh Mahasiswi dikumpulkan di Aula untuk
menyaksikan hukuman mereka supaya dijadikan pelajaran bagi seluruh Mahasisiwi
untuk mentaati peraturan dengan baik, dan tidak terjadi untuk kedua kalinya.
Hikmah: “Setiap perbuatan pasti ada balasannya, dan balasan itu akan lebih
besar dari perbuatan tersebut. Sekarang tergantung apa yang kita lakukan, jika
yang kita lakukan baik, tentu Allah akan membalas kebajikan tersebut dengan pahala yang lebih
besar dari apa yang kita lakukan. Begitu pula sebaliknya, apabila kita
melakukan suatu keburukan maka Allah pun akan membalas perbuatan itu sesuai
dengan perbuatannya, bahkan akan lebih besar dari perbuatan yang dilakukan.
Kebaikan dibalas pahala, keburukan dibalas dengan Adzab.
Dari cerita
diatas, kita dapat memetik beberapa pelajaran, yang pertama, kita harus bisa
mentaati peraturan. Sebab dimanapun kita berada, kita akan tetap hidup
didampingi peraturan. Karena hidup ini memang butuh peraturan. Dengan peraturan
lah kita bisa tertib. Dan yang kedua, hendaknya kita selalu berbuat kebaikan,
seperti bersikap jujur pada siapapun. Sebab kejujuran adalah mata uang yang
akan berlaku dimana-mana. Kebaikan sekecil apapun pasti Allah akan membalasnya. Tak perlu banyak yang tahu tentang kebaikan yang kau lakukan.
Cukup Allah yang mengetahui hatimu.
Terimakasih
banyak sudah membaca sampai akhir ya teman-teman, semoga kisah ini dapat
bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Jangan lupa coment dibawah ya
teman-teman! See you next time in a new blog!
Wassalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuhu.
Mantingan, 12 September 2019.