Alqur’an merupakan kitab suci umat
Islam yang berlaku sepanjang zaman dan telah teruji kebenarannya. Diturunkan
oleh Dzat Yang Mulia kepada Rasul-Nya yang mulia pula. Tidak ada yang bisa
menggantikan kedudukannya sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia hingga
akhir zaman. Sedangkan Sunnah yaitu segala perbuatan maupun perkataan yang
berasal dari Rasulullah SAW yang sesuai dengan Al-Qur’an dan merupakan suri
tauladan yang baik bagi seluruh umatnya.
Perkembangan teknologi memang sangat memudahkan kita untuk
mengakses berbagai informasi, akan tetapi juga dapat menimbulkan dampak
negative seperti pengikisan nilai-nilai moral dan akhlak pada generasi muda
akibat penyalahgunaan teknologi tersebut. Selain itu, teknologi dan segala
urusan dunia dapat membuat semua orang khususnya generasi muda menjadi lalai
akan waktu, sebab banyak waktu yang mereka habiskan untuk urusan dunia dan
teknologi tersebut.
Seharusnya, seluruh gaya hidup, pola pikir dan perilaku
umat Muslim dapat berpijak pada ajaran aqidah Islam serta tidak menyimpang dari
kepribadian islami sehingga dapat terjaga dari pengaruh nilai-nilai budaya dan
pandangan hidup kafirin. Dengan begitu, Umat Muslim dapat terus menjaga Tsaqofah
Islamiyah.
Tsaqofah Islamiyah merupakan peradaban Islam yang berarti
seluruh konsep pemikiran dan pandangan hidup berdasarkan ajaran/aqidah Islam
tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Jadi, dalam memandang realita dan
fenomena kehidupan, seorang Muslim harus berlandaskan Aqidah Islam. Mempelajari
Tsaqofah Islamiyyah dapat menyadarkan Umat Islam dan membekali diri dengan
pandangan, pola pikir, gaya hidup, dan kepribadian Islami. Untuk itu, Sebagai
seorang Muslim, seyogyanya kita dapat berdiri pada pendirian kita masing-masing
dan tetap teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah agar dapat mewujudkan kehidupan umat berdasarkan
Tsaqofah Islamiyah.
Sedangkan kondisi umat Muslim sekarang dengan mudah meniru
dan mengikuti budaya, tradisi, gaya hidup dan pola pikir orang kafir, sehingga
mereka terjerumus pada ideologi yang sesat, sebagaimana Rasulullah SAW
bersabda:
لَتَتَّبِعُنَ سَنَنَ الَّدِيْنَ مِنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتىَّ لَوْ دَخَلُوْا فِيْ جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَبَعْتُمُوهُمْ، قُلْنَا: يَا رَسُوْلُ اللهِ اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ ؟!.
“Sungguh kalian akan
mengikuti gaya hidup orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi
sehasta hingga kalau mereka masuk liang dhab (binatang sejenis biawak), maka
kalian akan mengikuti mereka. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka
itu Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Memangnya siapa lagi?” (HR. Muslim)
Generasi Muda adalah tumpuan untuk masa depan, merekalah
yang akan membawa panji Islam, yang akan memimpin umat agar menjadi hamba yang
berakhlak mulia dan hidup sesuai dengan ajaran islam. Semua itu akan terwujud
apabila Pendidikan yang benar sesuai ajaran Islam diberikan sejak dini.
Para Generasi Muda harus didekatkan pada ajaran Islam,
dengan ditanamkan nilai-nilai Al-qur’an dan Sunnah pada diri mereka agar mereka
dapat seimbang dalam berfikir dan bertindak. Adapun Para Orang Tua, Guru atau
Pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anak kaum
muslimin, menjadikan mereka generasi Rabbani yang selalu berjalan diatas
ketentuan-ketentuan Allah dan Sunnah Rasul-Nya, agar mereka dapat melanjutkan
perjuangan dakwah Rasulullah SAW dan Para sahabat. Sebagaimana Rasulullah SAW
bersabda:
مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَ هُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا
وَ هُمْ أَبْنَاءَ عَشَرَ وَ فَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah
anak-anak kalian agar menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan
pukulah mereka ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat
tidurnya”. (HR. Abu Dawud).
Meskipun hadits ini hanya
berhubungan mendidik anak sejak dini dalam hal shalat, akan tetapi sesungguhnya
mencakup Pendidikan lainnya dalam syariat islam yang bertujuan agar anak-anak
tumbuh menjadi Pemuda yang taat pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Salah satu wasilah yang dapat membentuk kepribadian
anak-anak atau Generasi Muda misalnya dengan menyekolahkan mereka di Pesantren
atau sekolah-sekolah yang memiliki nilai-nilai Islami serta Pendidikan yang
sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah agar mereka dicetak menjadi
generasi-generasi yang baik. Mereka juga harus dijauhkan dari berbagai sarana
yang dapat membawa kepada kerusakan, sehingga anak akan selamat dari berbagai
penyelewengan, agar selalu terjaga fitrahnya, dan menjadi anak shalih yang
memberi manfaat bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat kelak.
Seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits:
اِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهَ اِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ اِلاَّ مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
“Apabila
salah seorang meninggal, maka akan terputuslah semua amalannya, kecuali tiga
perkara (yaitu) sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang
senantiasa mendo’akan kedua orang tuanya. (HR. Muslim).
Islam sangat memperhatikan kepada Para Pemuda, karena Masa
muda merupakan masa yang produktif dan gemilang untuk mengumpulkan bekal
sebanyak-banyaknya menuju akhirat. Demikian halnya Rasulullah SAW pun sangat
memperhatikan kepada Para Pemuda, seperti dalam sabdanya:
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الإِمَاُم
الْعَادِلُ وَ شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
“Tujuh
orang yang akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tidak ada perlindungan
kecuali perlindungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil dan seorang Pemuda yang
tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. (Muttafaqun Alaihi)
Untuk itulah, sebagai
Generasi Millenial, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dengan mempelajari
dan memahaminya serta terus berpegang teguh menjadikan Al-Qur’an dan hadits
sebagai pedoman serta petunjuk dalam mengarungi kehidupan agar dapat menjadi
Pemimpin Umat yang taat sehingga dapat melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah
SAW dalam mewujudkan dan menjaga Tsaqofah Islamiyyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar