Minggu, 22 Desember 2019

Puisi " Teruntuk Mama Tersayang"




“TERUNTUK MAMA TERSAYANG”
Karya: Aprizah

Tak ada kalimat yang patut ku ucapkan….
Selain terimakasih…
Tak ada yang pantas kuberikan…
Selain balas kasih…
                Ma…Maafkan anakmu…
                Yang belum sanggup membalasmu,
                menciptakan senyuman diwajahmu,
                dan menghadirkan kebahagiaan dalam kalbumu…
Sayatan kata dan luka…
hingga tetes air mata…
mengalir dari pelupuk matamu…
dan membasahi pipimu…
                Mama lah ibu terhebat bagiku….
                Yang sabar dan ikhlas merawatku…
                Mengajariku tanpa letih dan jemu…
                Serta memelukku dengan kehangatan cintamu…
Balutan kasih sayangmu mengingatkan…
Segala yang telah Mama berikan…
Semoga akan terbalaskan…
Dengan do’a yang ku panjatkan…
Ma, kau lah Sang Pelita.…
Dalam kegelapan rasa…
Yang menerangi ruang jiwa…
Yang kosong tak bersuara….

_Gontor, 22 Desember 2019_
Happy Mom Day

Sabtu, 21 Desember 2019

“Pendidikan sebagai langkah awal Menjadi Muslimah Kaffah berpotensi dan bersolidaritas”




Dengan berkembangnya zaman serta meningkatnya teknologi saat ini, kebanyakan Muslimah mulai terjerumus dalam hal-hal bid’ah yang ada pada saat ini, seperti menggunakan hijab modern yang tak sesuai dengan hijab syari’at islam sesungguhnya, mereka mulai mengikuti tren barat dan meninggalkan syariat islam karena ketidakmengertian mereka akan ilmu Pengetahuan. Ini merupakan bukti bahwa Pendidikan mereka masih sangat minim. Untuk itu, Pendidikan sangat dibutuhkan bagi setiap insan khusunya Para Muslimah, sebab wanita memiliki peran yang sangat penting dalam hidupnya. Ia adalah seorang putri, saudara perempuan, yang nantinya akan menjadi seorang istri dan bahkan seorang ibu yang akan melahirkan, membentuk, dan mendidik generasi-generasi islam menjadi seorang yang baik dan berpendidikan. Maka dari itu, untuk melahirkan generasi-generasi yang terdidik, maka harus dimulai dari seorang wanita yang terdidik pula.
Pepatah mengatakan, “Wanita adalah saudara kandung lelaki”. Artinya, Setiap kaum hawa memiliki tanggung jawab sebagaimana kaum Adam yaitu untuk menuntut ilmu. Setiap Muslimah hendaknya lebih memperhatikan Aulawiyat dibandingkan ilmu-ilmu umum. Ilmu Aulawiyat yaitu ilmu yang mendasar dan harus dipelajari pertama kali, seperti ilmu Aqidah, fiqih, Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan ilmu-ilmu Syar’I itulah maka seorang Muslimah dapat mempraktekkan ajaran agamanya dengan benar, sehingga dapat menekuni Agama islam secara sempurna.
Wanita merupakan panji bagi suatu Negara, yang akan menentukan bagaimana masa depan suatu Negara. Jika Para wanita dalam suatu Negara itu baik, maka baiklah masyarakatnya. Dan sebaliknya, jika wanita-wanitanya rusak, maka rusaklah masyarakat yang ada dalam Negara tersebut. Untuk itulah setiap wanita Muslimah harus memiliki kesadaran untuk berpendidikan, memiliki ilmu dan bekal untuk masa depan mereka.
Banyak wanita yang beranggapan bahwa Pendidikan bagi seorang wanita tidak perlu tinggi sampai sarjana atau lebih dari itu, sebab setinggi apapun Pendidikan seorang wanita maka pada akhirnya ia harus kembali pada tugasnya yang hakiki yaitu menjadi seorang ibu rumah tangga. Pernyataan itu memang benar, mereka akan menjadi ibu rumah tangga, tapi dalam hal Pendidikan yang tidak perlu tinggi maka itu adalah kesalahan besar. Wanita yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi bukanlah suatu kesalahan, karena menuntut ilmu merupakan kewajiban sejak kita dilahirkan hingga ke liang lahat. Ilmu yang didapatkan seorang wanita bukanlah semata untuk mendapatkan gelar sarjana atau supaya dipandang baik dalam masyarakat, akan tetapi ilmu yang mereka dapatkan sebenarnya akan menjadi bekal untuk menghadapi masa depannya ketika sudah hidup dalam lingkungan masyarakat, berumah tangga, dan mendidik anak-anaknya nanti.
Muslimah yang kaffah adalah yang mengerjakan kewajibannya sebagai hamba Allah, yaitu beribadah kepada-Nya, mengerjakan sunnah-sunnah Rasul-Nya, berakhlak mulia, berperilaku baik, mampu menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya. Ia tidak hanya menjadi baik untuk dirinya sendiri, akan tetapi bisa mengajak dan menggerakkan orang-orang disekitarnya untuk melakukan kebaikan tidak hanya sekedar dengan ajakan atau perintah, tetapi dengan memberi teladan dan mempraktekkan kebaikan dalam bermu’amalah kepada Allah dan orang-orang disekitarnya. Ciri-ciri wanita Muslimah yang paling mudah dikenal dikalangan masyarakat adalah mengenakan hijab syar’I, yang menutupi kepala hingga dada. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59:
يَآيَّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِإَزْوَاجِكَ وَ بَنَاتِكَ وَ نِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّ، ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ، وَ كَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Artinya:Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/ disakiti. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini begitu populer di kalangan Muslimah yang berpengetahuan sehingga tidak jarang dari mereka yang lebih meyakini untuk mengenakan hijab, hal ini sangat berbeda bagi kalangan Muslimah yang kurang berpengetahuan, mereka menganggap jilbab hanya sekedar menutupi rambut, tapi tidak megetahui bahwa ini hukumnya wajib, sehingga banyak dari mereka yang masih buka tutup hijab. Untuk itu, sebagai Muslimah yang kaffah maka hendaknya kita berdakwah menyebarkan pengetahuan agama islam kepada saudari- saudari kita yang belum mengetahui tentang islam.
Wanita merupakan orang yang sangat dimuliakan oleh Rasulullah SAW. Beliau telah mengangkat derajat wanita tiga kali lebih tinggi, yang dahulunya pada masa jahiliyyah wanita adalah aib bagi mereka sehingga wanita dibunuh hidup-hidup. Namun setelah Nabi datang membawa islam, maka wanita telah dimuliakan, untuk itu seharusnya kita menjaga kehormatan kita dengan baik, salah satu caranya adalah dengan menutup aurat atau mengenakan hijab syar’i.
Muslimah yang sesungguhnya adalah yang sederhana, memiliki rasa malu, berpakaian apa adanya, tidak menampakkan auratnya/ kecantikannya diluar rumah (tabarruj). Allah melarang keras dalam hal ini, seperti dalam firman-Nya:
وَ لَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ  الْأُوْلَى
“Janganlah Kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu.” (QS Al-Ahzab: 33)
Sebagai wanita Muslimah, hendaknya kita meneladani Sayyidatina Fatimah, Putri Nabi yang begitu sederhana dalam berpenampilan, ia tidak berlebihan, dan memiliki rasa malu yang tinggi sehingga ia sangat berhati-hati dalam menjaga auratnya. Rasa malu atau hayaa’ harus dimiliki oleh setiap Muslimah, karena itu merupakan karakteristik orang yang mulia dan memiliki keimanan tinggi. Hayaa’ merupakan kepekaan yang baik dan kelembutan perasaan yang tampak di mata yang sangat mempengaruhi penampilan seorang Muslimah, maka ia yang dimahkotai dengannya akan mendapatkan kehormatan dan kemuliaan serta dianugerahi dengan kebaikan yang sempurna.
Untuk mencapai ridho Allah dan menjadikan kita sebagai Muslimah yang kaffah, maka kita harus menghindari beberapa hal, yaitu juga tidak meninggikan (tertawa terbahak-bahak dan  berkata dengan suara keras) atau merendahkan suaranya dengan lembut ketika berhadapan dengan lawan jenis, tidak menggunakan parfum saat bepergian atau melewati kaum lelaki, karena akan menimbulkan fitnah, memakai pakaian tapi telanjang, artinya memakai pakaian yang ketat dan transparan.  Dan hendaknya kita tidak meninggikan sanggul rambut seperti punuk unta. Sebagaimana ancaman Nabi SAW: “Ada dua jenis manusia diantara penghuni neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, yaitu wanita yang berpakaian tapi telanjang, condong pada ketidaktaatan dan mencondongkan orang lain, di kepalanya terdapat seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak juga mencium bau syurga meskipun wangi syurga dapat tercium dari jarak sekian sekian”.

Jumat, 20 Desember 2019

Puisi "Anak Jalanan"


“Anak Jalanan”
Karya: Aprilia Azizah

Aku seperti terdampar
Di tepi kesengsaraan
Yang penuh kesulitan.
Setiap pagi buta
Aku menapak pinggiran kota
Dengan gitar kecil yang kubawa
Dan botol bekas aqua
Dibawah lampu merah
Aku menyanyikan lagu “Ayah”
Berharap ada sebuah koin
Yang akan masuk botolku hari ini
Sambil menatap setiap mobil mewah
Yang melintas di depanku tak hentinya
Dengan pengemudi berjas dan berdasi
Sudikah kiranya
Mereka memberiku sebutir koin?
Atau sesuap nasi?
Sudikah kiranya
 Mereka menengok rumahku
Yang hanya sebuah kardus tersusun
 Kumuh diselimuti sampah-sampah
Atau bisakah kiranya,
Aku duduk di kursi mobil empuk itu
Menikmati indahnya kota
Merasakan semua yang mereka punya
Memiliki keluarga
Duduk di bangku sekolah
Tanpa harus berjumpa hujan
Dan bersua dengan teriknya hari
Andaikan hidupku tak malang
Hidupku pasti akan tenang
Namun aku hanyalah anak jalanan
Yang meratapi nasib di bawah kenestapaan


_Ngawi, 17 Desember 2019_



Rabu, 18 Desember 2019

Puisi "Rindu Ayah"


“Rindu Ayah”
Karya: Aprilia Azizah
Ku teringat pagi yang paling cerah…
Bersama canda tawa ayah…
Menyusuri jalan di sawah…
Sambil mengayuh sepeda…
            Burung-burung berkicauan riang…
            Membuat suasana ku semakin senang…
            Aku berdiri menghirup udara…
            Menatap indahnya semesta…
Bersyukur rasanya…
Bisa menghabiskan waktu bersama ayah…
Aku merasa seperti putri raja…
Yang selalu saja dimanja…
            Kenangan itu melesat seketika…
            Mataku berbinar-binar mengingatnya…
            Sedih tak bisa mengulangnya…
            Pilu tak bisa seperti dulu…
Masa kecilku kini telah usai…
Hilang dari sebuah kenyataan
Hanya menjadi sebuah kenangan
Yang tersimpan dalam ingatan…
            Ayah…
            Aku merindukan masa-masa itu…
            Bisakah kita melakukannya lagi?
            Aku masih merasa menjadi putri kecil ayah…
Ayah…
Aku rindu tawa ayah…
Aku rindu nasehat ayah…
Aku rindu semua tentang ayah…
Ayah…
            Aku takut melangkah kedepan
            Aku takut salah jalan…
            Aku takut melihat masa mendatang
Ayah, Aku takut…
Tak bisa menemukan sosok seperti ayah…
Tak ada lagi orang yang seperti ayah…
Yang sabar menghadapi semua sikapku
            Ayah, jangan pergi…
            Aku takut, jika ayah pergi…
Lalu siapa yang akan membimbingku?
Siapa yang akan membalut lukaku?
Ayah…
Tetaplah bersamaku disini…
Dampingi aku…
Tuntunlah aku hingga menuju Jannah-Nya
















“Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Generasi Muda"

  Di era modern ini, teknologi semakin canggih yang merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Budaya asing semakin mudah masuk ke bum...