Jumat, 11 September 2020

Puisi "Senyum Palsu"

 

Senyum palsu

Hatiku pada awalnya seperti bunga

Yang selalu merekah

Kala melihat sekilas senyum indah

Dari dirimu yang ku damba

Kini tak ingin lagi menyaksikannya

Setelah ku tau,

Semua yang kau lakukan itu

Hanya sebuah senyuman palsu

Untuk apa kau lemparkan senyum itu

Jika hanya membuatku tersipu malu

Yang pada kenyataannya

Hatimu lebih memilih dirinya

Inikah yang dinamakan harapan?

Diriku hanya bisa terdiam

Dan hatiku pun terus menggumam

Bodohnya diriku telah tertipu

Oleh sosok dirimu yang buatku ragu

Hatiku begitu rapuh dan sendu

Terombang ambing oleh dahsyatnya badai rindu

Ku minta kau tuk berhenti di depan kalbu

Dan jangan mengetuk lagi serta menjauhiku

 

Puisi "10 Harii Tanpamu"

 



“10 Hari Tanpamu”

Kepakan sayap masa lalu

Membawaku terbang bernostalgia

Berhimpitan dengan sejuta kenangan

Aku melihat ruang senang, sedih, bahagia dan kecewa

Terpampang jelas di hadapanku

Hari dimana aku merasa bersedih

Menjalani hari-hari tanpamu

Sepuluh hari itu terasa berat

Seperti menjajakkan kaki diatas air

Rasanya tak mampu kulakukan

Engkau meninggalkan sejuta rindu

Yang terurai deras dalam kalbu

Raut wajahmu seolah berpamitan

Walau hanya dengan sebuah tatapan

Yang masih terkenang di garis bahagiaku

Hari-hariku tanpamu begitu lesu

Aku yang biasa melihat senyummu meski dari jauh

Kini tak kutemui lagi sosok itu

Aku seperti kehilangan arah

Kebingungan dan menyerah

Aku berdiri di pintu kelas itu

Sambil menunggu sebuah kabar darimu

Namun, sebuah salampun tak kudapati

Meski hanya dari kicauan merpati

Ku hanya bisa berharap

Rindu ini segera terucap

Kepadamu yang sedang kutunggu

Dalam diamku yang termangu

Dunia ini terasa begitu beku

Kedinginan tanpa hangatmu

Aku ingin sepuluh hari ini segera pergi

Dan membawamu pulang kembali

Kepadaku yang selalu menanti

 

 

Rabu, 09 September 2020

Tak Perlu Malu

 

“Tak Perlu Malu”

Pada hari itu, ketika berada di jam kuliah, kebetulan dosenku sedang membahas soal pandangan sesorang mengenai pondok berdasarkan latar belakangnya. Lalu beliau menanyakan kepada kami, “Siapa disini yang orang tuanya Alumni Pondok?” tentu saja aku tak kan mengangkat tangan, karena kedua orang tuaku adalah Petani, dan akupun hidup dalam keluarga yang sederhana. Lalu ada beberapa temanku yang menunjuk tangan, menandakan bahwa orang tua mereka adalah alumni Pondok.

Lalu Bapak Dosen mulai menunjuk salah satu Mahasiswi dan menanyakan tentang bagaimana pendapat orang tuanya mengenai Pondok dan apa yang mendorong orang tuanya untuk memasukkan anaknya ke pondok. Tapi sebelum itu, Bapak Dosen bertanya apa pekerjaan orang tuanya. Lalu ia menjawab, “Bapak saya Pengusaha, Pak”. Serentak hatiku begitu merasa heran dan takjub seraya berkata dalam hati “Masyaallah, betapa beruntungnya ia yang memiliki seorang Bapak Pengusaha, pasti ia hidupnya begitu berkecukupan”.

Kemudian ia mulai menjawab mengenai pendapat Bapaknya tentang Pondok, “Iya jadi karena Bapak saya pernah mondok ya pak, jadi beliau pastinya mengetahui bagaimana pengaruh Pondok bagi dirinya dalam hal pendidikan dan pengajaran, maka dari itu bapak saya memasukkan saya ke Pondok juga”. Hatiku mulai menggumam, “Benar-benar beda ya pandangan orang tua yang alumni pondok dan yang hanya alumni SD atau SMP”. Astaghfirullahaladzhim, tanpa aku sadari sedari tadi aku sudah mulai tak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku. Sadar Dona! Sadar!

Setelah itu, bapak dosen bertanya lagi siapa yang orang tuanya bukan dari alumni Pondok, dan disitu pun aku tak berani menunjuk tangan, entah apa yang ku fikirkan aku merasa tak begitu kuat jika sampai aku yang ditunjuk. Dan ada beberapa juga teman-temanku yang menunjuk tangan. Disitu aku sempat berfikir, kira-kira kalau orang tua mereka bukan alumni Pondok lalu pekerjaan orang tua mereka apa ya, apa mereka berasal dari keluarga yang seperti aku juga? Tapi mengapa mereka tak begitu kelihatan malu? Aku terus bertanya-tanya, sampai pada akhirnya bapak dosen menunjuk salah satu teman.

“Oh iya kamu, hesti, apa pekerjaan orang tuamu?” ucap bapak dosen. “orang tua saya TNI pak” jawab hesti. Aku semakin kaget dari sebelumnya, ternyata semua yang aku duga-duga tadi salah. Aku mulai berucap dalam hati lagi “Ya Allah betapa beruntungnya ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan, dan ayahnya juga seorang TNI”. Astaghfirullahaladzhim… lagi-lagi aku mulai tak bersyukur lagi. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini.

Dan rupanya pandangan orang tua dia tak beda jauh dari teman yang sebelumnya, patutlah karena mereka terlahir dari keluarga yang terdidik. Tapi entah kenapa setelah itu aku tiba-tiba menangis, beruntungnya aku duduk paling pojok sebelah dinding, jadi tak ada teman yang tahu. tanpa aku sadari hatiku begitu terasa sesak. Entah karena merasa bersyukur atau mulai kufur. Namun setelah aku menangis, aku mulai berfikiran jernih. Aku adalah salah satu anak yang begitu beruntung. Meski terlahir dari keluarga yang sederhana dan mereka hanyalah seorang petani, namun ternyata pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang hina, tapi petani itu adalah suatu pekerjaan yang amat mulia.

Tanpa adanya mereka, kita tak bisa makan nasi, jagung, sayur-sayuran dan lainnya. kita yang biasa sebagai pembeli yang hanya bsa menyediakan uang, lalu apa artinya uang itu apabila barang yang mau dibeli tak ada. Untuk itulah, aku begitu bersyukur terlahir dari keluarga petani. Petani tak selalu miskin, dan tak berkecukupan. Buktinya kedua orang tuaku mampu menyekolahkan aku sampai ke jenjang perguruan tinggi, yang biayanya cukup besar. Bahkan setiap harinya pun aku selalu makan dengan lauk pauk yang baik. Bahkan sayur-sayuran dan nasi yang ku makan lebih alami karena memetik langsung dari kebun, tidak seperti sayuran-sayuran yang sudah di jual di toko atau market yang mungkin sudah diberi bahan pengawet. Aku yakin, Allah akan terus mencukupi kebutuhan hamba-Nya dalam hal menuntut ilmu.

Sebelumnya, ketika aku belum kuliah, aku masih berada di lingkungan yang rata-rata latar belakang orang tua mereka adalah petani. Karena mata pencaharian di desaku adalah petani maka aku tak pernah merasa malu dan biasa saja jika mendengar pekerjaan orang tua adalah petani, tapi setelah mulai kuliah dan hidup di lingkungan yang berbeda, aku juga mulai merasakan banyak perbedaan. Apalagi disini sudah berasal dari berbagai penjuru, tentu saja latar belakang kita berbeda-beda.

Tapi satu hikmah yang dapat ku petik dari kejadian ini adalah, bahwa aku tak perlu merasa malu terlahir dari keluarga petani. Justru aku bangga kedua orangtuaku mampu menyekolahkanku sampai setinggi ini. Aku bahkan ingin lebih baik dari kedua orang tuaku. Ada pepatah bilang “Buah jatuh tak akan jatuhh dari pohonnya”, tapi aku ingin mengubah pepatah itu. Jika kedua orangtuaku adalah petani, maka kelak bisa saja aku jadi Bos dari petani. Jika aku menjadi petani juga, lalu untuk apa aku hidup? Hanya menambah jatah beras saja kan? :D. Maksudnya, meskipun kedua orang tuaku adalah petani, bukan berarti aku harus menjadi petani juga, bisa saja aku menjadi guru, menjadi dokter, polisi, penyanyi, atau apapun nanti. Yang penting aku harus bisa menjadi lebih baik dari kedua orang tuaku dan mengangkat derajat mereka supaya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Pesanku untuk untuk mamah dan bapak, terimakasih banyak telah merawatku hingga aku menjadi seperti sekarang, maaf atas semua tetes keringat yang kalian perjuangkan untuk menyekolahkanku, semoga Allah menggantinya dengan syurga. I love you, Mom, dad.

 

“Pengaruh Ideologi Barat Terhadap Generasi Muda"

  Di era modern ini, teknologi semakin canggih yang merupakan dampak dari globalisasi itu sendiri. Budaya asing semakin mudah masuk ke bum...