“Tak Perlu
Malu”
Pada hari
itu, ketika berada di jam kuliah, kebetulan dosenku sedang membahas soal
pandangan sesorang mengenai pondok berdasarkan latar belakangnya. Lalu beliau
menanyakan kepada kami, “Siapa disini yang orang tuanya Alumni Pondok?” tentu
saja aku tak kan mengangkat tangan, karena kedua orang tuaku adalah Petani, dan
akupun hidup dalam keluarga yang sederhana. Lalu ada beberapa temanku yang
menunjuk tangan, menandakan bahwa orang tua mereka adalah alumni Pondok.
Lalu
Bapak Dosen mulai menunjuk salah satu Mahasiswi dan menanyakan tentang
bagaimana pendapat orang tuanya mengenai Pondok dan apa yang mendorong orang
tuanya untuk memasukkan anaknya ke pondok. Tapi sebelum itu, Bapak Dosen
bertanya apa pekerjaan orang tuanya. Lalu ia menjawab, “Bapak saya Pengusaha,
Pak”. Serentak hatiku begitu merasa heran dan takjub seraya berkata dalam hati
“Masyaallah, betapa beruntungnya ia yang memiliki seorang Bapak Pengusaha,
pasti ia hidupnya begitu berkecukupan”.
Kemudian
ia mulai menjawab mengenai pendapat Bapaknya tentang Pondok, “Iya jadi karena
Bapak saya pernah mondok ya pak, jadi beliau pastinya mengetahui bagaimana
pengaruh Pondok bagi dirinya dalam hal pendidikan dan pengajaran, maka dari itu
bapak saya memasukkan saya ke Pondok juga”. Hatiku mulai menggumam,
“Benar-benar beda ya pandangan orang tua yang alumni pondok dan yang hanya
alumni SD atau SMP”. Astaghfirullahaladzhim, tanpa aku sadari sedari tadi aku
sudah mulai tak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku. Sadar Dona!
Sadar!
Setelah
itu, bapak dosen bertanya lagi siapa yang orang tuanya bukan dari alumni
Pondok, dan disitu pun aku tak berani menunjuk tangan, entah apa yang ku
fikirkan aku merasa tak begitu kuat jika sampai aku yang ditunjuk. Dan ada
beberapa juga teman-temanku yang menunjuk tangan. Disitu aku sempat berfikir,
kira-kira kalau orang tua mereka bukan alumni Pondok lalu pekerjaan orang tua
mereka apa ya, apa mereka berasal dari keluarga yang seperti aku juga? Tapi
mengapa mereka tak begitu kelihatan malu? Aku terus bertanya-tanya, sampai pada
akhirnya bapak dosen menunjuk salah satu teman.
“Oh iya
kamu, hesti, apa pekerjaan orang tuamu?” ucap bapak dosen. “orang tua saya TNI
pak” jawab hesti. Aku semakin kaget dari sebelumnya, ternyata semua yang aku
duga-duga tadi salah. Aku mulai berucap dalam hati lagi “Ya Allah betapa
beruntungnya ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan, dan ayahnya juga
seorang TNI”. Astaghfirullahaladzhim… lagi-lagi aku mulai tak bersyukur lagi.
Ya Allah ampuni hamba-Mu ini.
Dan
rupanya pandangan orang tua dia tak beda jauh dari teman yang sebelumnya,
patutlah karena mereka terlahir dari keluarga yang terdidik. Tapi entah kenapa
setelah itu aku tiba-tiba menangis, beruntungnya aku duduk paling pojok sebelah
dinding, jadi tak ada teman yang tahu. tanpa aku sadari hatiku begitu terasa
sesak. Entah karena merasa bersyukur atau mulai kufur. Namun setelah aku
menangis, aku mulai berfikiran jernih. Aku adalah salah satu anak yang begitu
beruntung. Meski terlahir dari keluarga yang sederhana dan mereka hanyalah
seorang petani, namun ternyata pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang hina,
tapi petani itu adalah suatu pekerjaan yang amat mulia.
Tanpa
adanya mereka, kita tak bisa makan nasi, jagung, sayur-sayuran dan lainnya.
kita yang biasa sebagai pembeli yang hanya bsa menyediakan uang, lalu apa
artinya uang itu apabila barang yang mau dibeli tak ada. Untuk itulah, aku
begitu bersyukur terlahir dari keluarga petani. Petani tak selalu miskin, dan
tak berkecukupan. Buktinya kedua orang tuaku mampu menyekolahkan aku sampai ke
jenjang perguruan tinggi, yang biayanya cukup besar. Bahkan setiap harinya pun
aku selalu makan dengan lauk pauk yang baik. Bahkan sayur-sayuran dan nasi yang
ku makan lebih alami karena memetik langsung dari kebun, tidak seperti
sayuran-sayuran yang sudah di jual di toko atau market yang mungkin sudah
diberi bahan pengawet. Aku yakin, Allah akan terus mencukupi kebutuhan
hamba-Nya dalam hal menuntut ilmu.
Sebelumnya,
ketika aku belum kuliah, aku masih berada di lingkungan yang rata-rata latar
belakang orang tua mereka adalah petani. Karena mata pencaharian di desaku
adalah petani maka aku tak pernah merasa malu dan biasa saja jika mendengar
pekerjaan orang tua adalah petani, tapi setelah mulai kuliah dan hidup di lingkungan
yang berbeda, aku juga mulai merasakan banyak perbedaan. Apalagi disini sudah
berasal dari berbagai penjuru, tentu saja latar belakang kita berbeda-beda.
Tapi satu
hikmah yang dapat ku petik dari kejadian ini adalah, bahwa aku tak perlu merasa
malu terlahir dari keluarga petani. Justru aku bangga kedua orangtuaku mampu
menyekolahkanku sampai setinggi ini. Aku bahkan ingin lebih baik dari kedua
orang tuaku. Ada pepatah bilang “Buah jatuh tak akan jatuhh dari pohonnya”,
tapi aku ingin mengubah pepatah itu. Jika kedua orangtuaku adalah petani, maka
kelak bisa saja aku jadi Bos dari petani. Jika aku menjadi petani juga, lalu
untuk apa aku hidup? Hanya menambah jatah beras saja kan? :D. Maksudnya,
meskipun kedua orang tuaku adalah petani, bukan berarti aku harus menjadi
petani juga, bisa saja aku menjadi guru, menjadi dokter, polisi, penyanyi, atau
apapun nanti. Yang penting aku harus bisa menjadi lebih baik dari kedua orang
tuaku dan mengangkat derajat mereka supaya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Pesanku
untuk untuk mamah dan bapak, terimakasih banyak telah merawatku hingga aku
menjadi seperti sekarang, maaf atas semua tetes keringat yang kalian
perjuangkan untuk menyekolahkanku, semoga Allah menggantinya dengan syurga. I
love you, Mom, dad.